Wednesday, June 6, 2012

Information Overload (Infoglut)



Pernahkah teman-teman merasa kesulitan berkonsentrasi saat mengerjakan tugas di laptop karena masih sibuk menjawab email, menjawab chat, membalas tweet, atau melihat notifikasi di Facebook? Atau sulit untuk mendapatkan informasi penting saat berdiskusi di forum yang sudah sangat panjang respon thread-nya? Atau pernahkah teman-teman melewatkan email penting karena terlalu banyak email dari mailist? Kalau jawabannya positif maka ada baiknya teman-teman mengenal satu istilah berikut, Infoglut. Wah, benda apa itu?

Banyak mahasiswa yang belum menyadari bahwa dirinya telah terkena Infoglut. Berdasarkan survey yang dilakukan pada Juni 2011 terhadap 250 mahasiswa Fasilkom UI, 84% mahasiswa Fasilkom mengerjakan tugas sambil membuka jejaring sosial, email dan chatting. 45% dari responden merasa terganggu oleh pesan dari YM, sms dan telepon yang masuk. Salah satu hasil wawancara, seorang mahasiswi Fasilkom pernah mengaku urung memulai mengerjakan tugas kodingnya alih-alih membuka berkali kali situs jejaring sosial. Pernahkah teman-teman mengalami hal serupa? Survei juga menunjukan bahwa 58 % tidak peduli terhadap fenomena ini.


Infoglut dapat menurunkan akurasi, penilaian, kreatifitas, dan efektifitas kerja, menyebabkan kita bekerja jauh dibawah potensi sebenarnya, dapat menurunkan tingkat intelegensi, berdampak pada perusahaan, pendidikan, pemerintahan, dan perusahaan non-profit yang berarti bagi setiap orang. Menurut Nathan Zeldes (2009)  melalui tulisannnya "Infoglut, It’s the disease of the new millennium. How do we treat it",  Infoglut merupakan isu di era informasi. Infoglut merupakan kombinasi dari kata ‘info’ dan ‘glut’. Info berarti informasi, dan glut berarti ‘terbanjiri’. Infoglut terdiri atas dua elemen, yakni antrian pesan yang berlebihan dan distraksi. Contoh dari antrian pesan yang berlebihan, seseorang memiliki tiga akun email yang berbeda sehingga seringkali melewatkan pesan yang penting. Sedangkan distraksi bisa dalam berbagai bentuk, seperti dering telepon, suara tanda email masuk, dan lainnya. Oleh karena itu, Perlu adanya suatu aksi yang didasari dari kesadaran diri masing-masing untuk mengurangi infoglut. Salah satu cara yang ditawarkan penulis sebagai berikut:

Pertama, kita harus menyadari bahwa efek buruk dari infoglut terhadap diri kita, semisal tugas yang menjadi tidak maksimal hasilnya, rasa khawatir karena menunda pekerjaan. Kedua, kita perlu tegas terhadap diri sendiri dalam membagi waktu, misalkan waktu untuk berjejaring sosial cukup 1 jam sehari, untuk memeriksa email 1 jam, dan maksimalkan waktu untuk mengerjakan tugas dan juga istirahat. Terakhir, pintar-pintar dalam mengatur prioritas karena sehari hanya ada 24 jam.

Semoga bermanfaat :)

We drive technology, are not be driven by it
- Komunitas Pemerhati Teknologi : Sebuah Komunitas Peduli Teknologi dari Fasilkom UI 2007 -

1 comment: