Pernahkah teman-teman merasa
kesulitan berkonsentrasi saat mengerjakan tugas di laptop karena masih sibuk
menjawab email, menjawab chat,
membalas tweet, atau melihat notifikasi
di Facebook? Atau sulit untuk mendapatkan informasi penting saat berdiskusi di
forum yang sudah sangat panjang respon thread-nya?
Atau pernahkah teman-teman melewatkan email penting karena terlalu banyak email dari mailist? Kalau jawabannya positif maka ada baiknya teman-teman
mengenal satu istilah berikut, Infoglut. Wah, benda apa itu?
Banyak mahasiswa yang belum
menyadari bahwa dirinya telah terkena Infoglut. Berdasarkan survey yang
dilakukan pada Juni 2011 terhadap 250 mahasiswa Fasilkom UI, 84% mahasiswa
Fasilkom mengerjakan tugas sambil membuka jejaring sosial, email dan chatting.
45% dari responden merasa terganggu oleh pesan dari YM, sms dan telepon yang
masuk. Salah satu hasil wawancara, seorang mahasiswi Fasilkom pernah mengaku
urung memulai mengerjakan tugas kodingnya alih-alih membuka berkali kali situs
jejaring sosial. Pernahkah teman-teman mengalami hal serupa? Survei juga
menunjukan bahwa 58 % tidak peduli terhadap fenomena ini.
Infoglut dapat menurunkan
akurasi, penilaian, kreatifitas, dan efektifitas kerja, menyebabkan kita
bekerja jauh dibawah potensi sebenarnya, dapat menurunkan tingkat intelegensi,
berdampak pada perusahaan, pendidikan, pemerintahan, dan perusahaan non-profit
yang berarti bagi setiap orang. Menurut Nathan Zeldes (2009) melalui tulisannnya "Infoglut, It’s the disease of the new
millennium. How do we treat it",
Infoglut merupakan isu di era informasi. Infoglut merupakan kombinasi
dari kata ‘info’ dan ‘glut’. Info berarti informasi, dan glut berarti
‘terbanjiri’. Infoglut terdiri atas dua elemen, yakni antrian pesan yang
berlebihan dan distraksi. Contoh dari antrian pesan yang berlebihan, seseorang
memiliki tiga akun email yang berbeda sehingga seringkali melewatkan pesan yang
penting. Sedangkan distraksi bisa dalam berbagai bentuk, seperti dering
telepon, suara tanda email masuk, dan lainnya. Oleh karena itu, Perlu adanya
suatu aksi yang didasari dari kesadaran diri masing-masing untuk mengurangi
infoglut. Salah satu cara yang ditawarkan penulis sebagai berikut:
Pertama, kita harus
menyadari bahwa efek buruk dari infoglut terhadap diri kita, semisal tugas yang
menjadi tidak maksimal hasilnya, rasa khawatir karena menunda pekerjaan. Kedua, kita perlu
tegas terhadap diri sendiri dalam membagi waktu, misalkan waktu untuk
berjejaring sosial cukup 1 jam sehari, untuk memeriksa email 1 jam, dan
maksimalkan waktu untuk mengerjakan tugas dan juga istirahat. Terakhir,
pintar-pintar dalam mengatur prioritas karena sehari hanya ada 24 jam.
Semoga bermanfaat :)
“We drive technology, are not be driven by it”
- Komunitas Pemerhati Teknologi : Sebuah Komunitas Peduli Teknologi dari Fasilkom UI 2007 -


izin share ya :)
ReplyDelete